ads
ads

08 September 2026

Ngeri-Ngeri Sedap: Masa Depan Kerja di Tangan AI

0 comments

 

ker
acara mahasiswa

Perkembangan Kecerdasan Buatan (AI) membawa angin perubahan yang membuat dunia kerja menjadi terasa "ngeri-ngeri sedap". Di satu sisi mencemaskan, karena AI diproyeksikan bakal merombak total 50% hingga 55% pekerjaan hanya dalam dua hingga tiga tahun ke depan. Di sisi lain menjanjikan, karena pergeseran ini tidak serta-merta melenyapkan lapangan kerja, melainkan menuntut karyawan untuk beradaptasi dengan ekspektasi dan cara kerja yang sepenuhnya baru.

Sisi "ngeri" dari teknologi ini adalah potensi hilangnya 10% hingga 15% pekerjaan secara total dalam lima tahun ke depan. Namun, bagian "sedapnya" adalah ledakan produktivitas akibat AI justru akan memicu pertumbuhan pasar. Hal ini diprediksi akan melahirkan berbagai peran baru yang belum pernah ada sebelumnya—peran yang tetap membutuhkan sentuhan dan keahlian murni manusia. Bagi para pemimpin perusahaan, dinamika ini menjadi tantangan besar untuk merancang strategi peningkatan keterampilan (upskilling) dan pelatihan ulang (reskilling) karyawannya secara terukur.

Menghadapi masa depan yang penuh ketidakpastian ini, dunia pendidikan tinggi harus bergerak cepat sebagai benteng persiapan talenta masa depan. Senior Advisor Yayasan Pendidikan Pelita Harapan (YPPH), Niel Nielson, dalam sesi UPH Festival 2026 menegaskan bahwa secanggih apa pun AI, teknologi tersebut tidak akan pernah bisa menggantikan kualitas inti manusia dalam mengambil keputusan dan menjalani kehidupan. Beliau memberikan pesan menohok: "AI adalah pelayan yang sangat baik, tetapi jangan pernah menjadikannya sebagai tuan atas hidup Anda".

Agar tidak tergilas oleh sisi "ngeri" AI dan bisa menikmati hasil "sedapnya", mahasiswa tidak boleh hanya bergantung pada nilai akademik belaka. Ketika AI mengotomatisasi hal-hal teknis, aspek humanis seperti kasih, pertimbangan moral, kemampuan membangun relasi, dan pengorbanan justru menjadi pelindung paling kuat. Perguruan tinggi kini mengemban tugas penting: bukan sekadar mencetak lulusan yang pintar secara teori, melainkan melahirkan generasi tangguh yang mampu beradaptasi dan mengendalikan teknologi secara bertanggung jawab.

sumber bacaan: bcgrepublika