![]() |
| perubahan etika |
Dahulu, waktu telepon kabel masih nangkring di ruang tamu dan dianggap barang mewah, menghafal nomor telepon itu hal yang biasa banget. Malahan, para ilmuwan kognitif setuju kalau kebiasaan ini adalah cara terbaik buat melatih daya ingat otak kita. Memutar otak buat mengingat deretan angka terbukti bisa memperkuat memori kerja—sesuatu yang sekarang jarang kita lakukan karena semuanya serbapraktis. Zaman sekarang, semua nomor kontak sudah tersimpan rapi di smartphone atau cloud. Alhasil, otak kita jadi kena brain rot alias makin "manja" dan malas diajak mikir keras, mirip seperti otot yang lemas karena jarang olahraga. Pergeseran ini jadi bukti kalau teknologi enggak cuma mengubah cara kita menyimpan data, tapi juga pelan-pelan bikin kapasitas mental kita jadi ikutan downgrade.
Efek ketergantungan sama gadget ini makin kelihatan jelas pada perubahan perilaku dan etika nongkrong anak zaman sekarang. Lahir di era digital, anak-anak sekarang sudah akrab banget sama teknologi sejak kecil. Mau ngobrol tinggal lewat pesan instan, belajar lewat layar, bahkan waktu kumpul keluarga pun tangan enggak bisa lepas dari gawai. Di balik segala kemudahan ini, ada nilai sopan santun yang pelan-pelan mulai luntur karena jarang dipraktikkan. Bedanya terasa banget: kalau dulu orang ngobrol itu bisa saling tatap muka dan fokus dengerin, sekarang momen seru itu sering keganggu gara-gara kebiasaan phubbing—dikit-dikit melirik layar HP dan asyik sendiri, bahkan pas lagi makan bareng keluarga. Kehilangan fokus saat berkomunikasi ini jadi alarm keras buat kita kalau gawai enggak cuma menjauhkan yang dekat, tapi juga bikin kita lupa cara menghargai kehadiran orang lain di dunia nyata.
sumber berita: jawapos, popmama
Efek ketergantungan sama gadget ini makin kelihatan jelas pada perubahan perilaku dan etika nongkrong anak zaman sekarang. Lahir di era digital, anak-anak sekarang sudah akrab banget sama teknologi sejak kecil. Mau ngobrol tinggal lewat pesan instan, belajar lewat layar, bahkan waktu kumpul keluarga pun tangan enggak bisa lepas dari gawai. Di balik segala kemudahan ini, ada nilai sopan santun yang pelan-pelan mulai luntur karena jarang dipraktikkan. Bedanya terasa banget: kalau dulu orang ngobrol itu bisa saling tatap muka dan fokus dengerin, sekarang momen seru itu sering keganggu gara-gara kebiasaan phubbing—dikit-dikit melirik layar HP dan asyik sendiri, bahkan pas lagi makan bareng keluarga. Kehilangan fokus saat berkomunikasi ini jadi alarm keras buat kita kalau gawai enggak cuma menjauhkan yang dekat, tapi juga bikin kita lupa cara menghargai kehadiran orang lain di dunia nyata.
sumber berita: jawapos, popmama
