ads
ads

12 Oktober 2026

Akses Internet Saja Tidak Cukup, AI Kini Jadi Penentu Daya Saing Masa Depan

0 comments

 

AI
daya saing

Kecerdasan buatan (AI) kini bukan lagi sekadar tren teknologi, melainkan instrumen vital yang mendefinisikan ulang daya saing di dunia kerja dan bisnis. Adopsi teknologi ini tidak boleh dilakukan tanpa arah, melainkan harus berbasis pada tujuan yang jelas dan efisiensi nyata.

Pandangan ini ditegaskan oleh Vishal Gupta, Chief TechCo Transformation and Procurement Indosat, di sela peluncuran Indosat Intelligence Suite di Singapura, Jumat (9/10/2026). Menurut Vishal, perusahaan maupun pekerja tidak perlu latah menggunakan AI hanya karena teknologi tersebut sedang berkembang pesat.

"AI bukanlah teknologi yang digunakan demi teknologi itu sendiri, melainkan alat yang memberdayakan Anda untuk melakukan lebih banyak hal dengan sumber daya yang sama," ujar Vishal. Ia menggarisbawahi bahwa di era modern, AI tidak akan menggantikan manusia secara langsung. "Namun, manusia yang menggunakan AI akan menggantikan manusia yang tidak menggunakannya, karena mereka menjadi jauh lebih efektif."

Tantangan peningkatan kapasitas SDM di tingkat korporasi ini sejalan dengan arah kebijakan pemerintah dalam skala nasional. Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi), Nezar Patria, menyatakan bahwa indikator keberhasilan transformasi digital di Indonesia kini telah bergeser. Fokus pemerintah tidak lagi sebatas pada penyediaan infrastruktur internet, melainkan pada produktivitas pemanfaatan teknologi oleh masyarakat.

“Jika sebelumnya pemerataan pembangunan digital diukur dari akses terhadap internet, hari ini pemerataan digital mulai bergeser pada akses terhadap pemanfaatan AI,” ungkap Nezar dalam keterangan resminya, Sabtu (13/6/2026).

Melalui integrasi perspektif ini, jelas bahwa lanskap kompetisi masa depan—baik bagi individu pekerja maupun peta digital nasional—akan melahirkan sekat baru. Kesenjangan digital tidak lagi ditentukan oleh siapa yang memiliki koneksi internet, melainkan oleh siapa yang mampu menjinakkan AI untuk produktivitas, dan siapa yang memilih untuk tertinggal.

berita: detik, investortrust